Riset & bukti
Klaim boleh keras. Buktinya harus lebih keras.
Setiap kalimat yang sering dipakai untuk membela kaderisasi feodal, kami jawab dengan temuan riset dan regulasi. Ringkasan ini ditulis untuk umum. Baca sumber aslinya, dan kabari kami lewat testimoni kalau ada yang perlu dikoreksi.
01 · Klaim
“Ah, itu cuma terjadi di kampus lain.”
Survei besar terhadap lebih dari 11.000 mahasiswa di 53 kampus menemukan 55% anggota klub, tim, atau organisasi pernah mengalami perpeloncoan.
Perpeloncoan bukan kasus langka di satu-dua organisasi. Ia muncul di hampir semua jenis kelompok mahasiswa: tim olahraga, organisasi kemahasiswaan, kelompok seni, sampai unit kegiatan. Data dalam negeri yang ada (lihat poin berikutnya) menunjukkan pola yang sama.
02 · KlaimData & riset dalam negeri
“Di Indonesia nggak separah itu.”
Asesmen Nasional Kemendikbudristek 2021–2022 mencatat 24,4% peserta didik mengalami berbagai bentuk perundungan, dari diancam sampai dipukul dan ditendang.
Survei ini diisi siswa dari ratusan ribu sekolah di seluruh Indonesia. Banyak maba datang ke kampus sudah membawa anggapan bahwa dibentak dan dihukum senior itu “biasa”. Kaderisasi feodal tinggal melanjutkan kebiasaan itu, bukan memutusnya.
03 · KlaimData & riset dalam negeri
“Senioritas itu cuma budaya anak himpunan.”
Di pendidikan dokter spesialis pun begitu. Skrining Kemenkes (Maret 2024) atas 12.121 peserta PPDS menemukan 2.716 orang (22,4%) bergejala depresi, dan 322 orang merasa lebih baik mati atau ingin melukai diri.
Hingga Agustus 2024, Kemenkes juga menerima 356 laporan dugaan perundungan di lingkungan pendidikan dan layanan kesehatan; 211 di antaranya dari rumah sakit vertikal. Skrining tidak membuktikan semua gejala itu akibat perundungan. Tapi keduanya muncul di program yang terkenal dengan hierarki senior-junior yang kaku, sampai pemerintah membuka kanal pelaporan khusus. Kalau calon dokter spesialis yang sudah dewasa saja bisa tertekan, apalagi maba 18 tahun.
04 · Klaim
“Dari dulu aman-aman aja kok.”
Pada survei besar yang sama, 95% mahasiswa yang sadar dirinya diplonco tidak melaporkannya ke pihak kampus.
Sedikitnya laporan tidak berarti sedikit kejadian. Alasan umum korban diam: takut dikucilkan, menganggapnya “bagian dari tradisi”, atau tidak tahu harus lapor ke mana. KawalKader membuka jalur lapor yang bisa anonim.
05 · KlaimData & riset dalam negeri
“Nggak enak lah, dia kan senior.”
Riset di Indonesia menemukan budaya ewuh pakewuh (sungkan pada atasan) menurunkan keberanian orang untuk mengungkap pelanggaran.
Studi terhadap 148 auditor internal pemerintah di Bali menemukan: makin kuat budaya sungkan, makin kecil kemungkinan kecurangan diungkap. Kajian lain menyimpulkan di lingkungan yang sangat sungkan, niat curang naik dan sistem pelaporan jadi tumpul. Auditor yang tugasnya memeriksa saja bisa terdiam karena sungkan, apalagi maba di depan senior. Kaderisasi feodal melatih rasa sungkan itu sejak hari pertama.
- ↳ Ratna Sari, M. M., Sustriani, P. N., & Suprasto, H. B. (2023). Can the effectiveness of whistleblowing system and ewuh pakewuh culture influence fraud disclosure? Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis, 18(1), 134.
- ↳ Sampe Tondok, M., & Widayati, I. (2024). Budaya “ewuh pakewuh”, kecurangan, dan sistem whistleblowing. Santhet, 8(2), 12686–12693.
06 · KlaimData & riset dalam negeri
“Maba itu harus hormat, jangan banyak tanya.”
Berpikir kritis tumbuh dari kebiasaan bertanya dan membantah. Riset di kelas-kelas Indonesia justru menemukan jarak kuasa yang tinggi membuat murid pasif dan enggan bersuara.
Peneliti pendidikan Indonesia mencatat pola kelas kita: guru bertanya, murid menjawab, guru menilai. Murid tidak nyaman berpartisipasi karena tahu jawabannya akan dihakimi, dan lebih dari satu dekade setelah berpikir kritis diwajibkan dalam kurikulum, kemampuan itu masih tertinggal. Studi lain menyebut jarak kuasa guru-murid yang tinggi membuat komunikasi dua arah sulit dibangun. Kaderisasi feodal memperparahnya: “senior selalu benar”, bertanya dianggap melawan, dan hukuman kolektif mengajari semua orang untuk diam. Padahal kampus teknik butuh mahasiswa yang berani bilang, “Data saya menunjukkan lain.”
- ↳ Defianty, M., & Wilson, K. (2022). Critical thinking in ELT: Indonesian teachers’ understanding and practice ten years down the track. Indonesian Journal of English Education, 9(1), 120–139.
- ↳ Wilson, K., & Defianty, M. (2024). The critical challenge for ELT in Indonesia: Overcoming barriers in fostering critical thinking in testing-oriented countries. TESOL in Context, 33(1), 82–96.
- ↳ Vusparatih, D. S. (2017). Power distance between teacher and students in learning process based on Curriculum 2013. Humaniora, 8(4), 361.
07 · Klaim
“Dibentak itu biar cepat belajar.”
Riset tentang tim kerja menemukan tim paling banyak belajar ketika anggotanya merasa aman untuk bertanya, mengaku salah, dan berbeda pendapat tanpa dihukum.
Ini disebut psychological safety. Di tim yang penuh rasa takut, orang menyembunyikan kesalahan dan berhenti mengajukan ide, sehingga timnya berhenti belajar. Bentakan tidak mempercepat belajar. Bentakan mengajari orang untuk pura-pura paham.
08 · KlaimData & riset dalam negeri
“Ini budaya kita. Anti-senioritas itu ide orang luar.”
Kritik paling tajam terhadap watak feodal justru datang dari tokoh bangsa sendiri. Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa sebagai lawan pendidikan berbasis perintah, hukuman, dan ketertiban.
Ki Hadjar menilai pendidikan yang dibangun lewat perintah dan paksaan (regering, tucht, orde) merusak budi pekerti dan mematikan kemerdekaan murid. Gantinya ia merumuskan Sistem Among: pendidik menuntun, bukan memerintah. Dari situlah semboyan Tut Wuri Handayani. Hampir lima puluh tahun kemudian, Mochtar Lubis dalam pidato “Manusia Indonesia” (1977) masih menyebut jiwa feodal sebagai salah satu ciri yang menghambat kita. Menolak kaderisasi feodal bukan meniru budaya luar. Itu meneruskan cita-cita pendidikan nasional.
09 · Klaim
“Tanpa digembleng, angkatan nggak akan kompak.”
Pada atlet mahasiswa, perilaku perpeloncoan tidak berhubungan dengan kekompakan tim yang lebih tinggi. Kegiatan team building yang positif justru berhubungan dengan kekompakan.
Kekompakan yang lahir dari rasa takut bersama itu rapuh dan sering berubah jadi kepatuhan pada senior, bukan solidaritas antarteman. Kalau tujuannya kompak, ada cara yang terbukti lebih baik: kerja sama menyelesaikan sesuatu yang bermakna.
10 · Klaim
“Yang sudah lulus kader bilang itu berguna banget.”
Eksperimen klasik: orang yang melalui inisiasi berat menilai kelompoknya lebih menarik, padahal kelompoknya sama membosankannya.
Ini disebut effort justification. Setelah menderita untuk masuk, otak kita cenderung meyakinkan diri bahwa penderitaan itu sepadan. Akibatnya alumni kader sering tulus membela sistemnya. Pembelaan itu bukan bukti bahwa sistemnya baik, dan inilah yang membuat siklusnya terus berulang.
11 · Klaim
“Senior juga cuma menjalankan tradisi.”
Banyak orang biasa mau menyakiti orang lain ketika diperintah figur otoritas dan tanggung jawabnya terasa dipindahkan ke atas.
Struktur kader yang hierarkis (panitia, komdis, “arahan dari atas”) membuat setiap orang merasa tidak bertanggung jawab penuh. Memutus siklus berarti ada yang berani berkata: “Saya tidak mau melakukan ini ke adik tingkat.”
12 · KlaimData & riset dalam negeri
“Ini urusan internal himpunan.”
Regulasi PPKPT mengatur pencegahan dan penanganan kekerasan di perguruan tinggi, termasuk kekerasan fisik, psikis, dan perundungan, dan mewajibkan kampus membentuk Satgas.
Kekerasan dalam kaderisasi bukan urusan internal. Kampus wajib mencegah dan menanganinya. Laporan ke KawalKader bisa diteruskan ke Satgas PPKPT ITERA atas persetujuan pelapor.
13 · KlaimData & riset dalam negeri
“Nggak mungkin sampai separah itu.”
Di Indonesia, kekerasan senior terhadap junior di lingkungan pendidikan tinggi sudah berulang kali berujung kematian, misalnya di IPDN (2007) dan STIP Jakarta (2017, 2024).
Hampir semua kasus fatal berawal dari hal yang dianggap “biasa”: pukulan “pembinaan”, push-up “hukuman”, atau pemanggilan malam “evaluasi”. Batas antara “tradisi” dan tragedi lebih tipis dari yang kita kira. Kajian dalam negeri menyebut lemahnya kontrol sosial dari keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai alasan kekerasan senioritas terus berulang.
14 · Klaim
“Terus gantinya apa?”
Motivasi dan kesejahteraan tumbuh ketika tiga kebutuhan psikologis terpenuhi: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Intimidasi merusak ketiganya.
Onboarding yang baik memberi maba pilihan (otonomi), kesempatan berhasil di sesuatu yang nyata (kompetensi), dan teman yang mendukung (keterhubungan). Contohnya mentoring, buddy system, dan proyek bersama. Ini sejalan dengan Sistem Among Ki Hadjar: senior menuntun dari belakang, bukan membentak dari depan.
Pernah mengalaminya?
Ceritamu bisa jadi data yang selama ini tidak ada.